Pengangguran, Masalah Sosial Yang Belum Tepecahkan

Pengangguran merupakan salah satu masalah sosial yang hingga kini masih belum menemui jalan keluar untuk memecahkan permasalahan tersebut. Pengangguran dapat dikagerorikan sebagai masalah sosial dan dianggap merugikan bagi kehidupan sosial. Hingga kini pengangguran menjadi masalah sosial yang belum terpecahkan.
Meski pemerintah telah banyak melakukan upaya untuk mengurangi angka pengangguran, tapi masalah ini hingga kini masih juga belum memiliki jalan keluar. Apalagi sekarang semakin banyak angkatan kerja yang tidak mendapat pekerjaan dikarenakan kurangnya fasilitas lapangan kerja sehingga jumlah pengangguran masih relatif sangat tinggi. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa pendidikan yang tinggi tidak dapat menjamin seseorang mendapat pekerjaan.

Selain itu, pengangguran juga dapat memunculkan adanya masalah sosial lainnya seperti kemiskinan.

Pengangguran dan Penyebabnya
Pengangguran atau yang biasa disebut dengan tuna karya, merupakan seseorang yang tidak memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan sehingga hingga saat ini belum bekerja.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak memiliki pekerjaan atau bisa disebut dengan pengangguran.
Berikut ini adalah faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pengangguran:
1. Kurangnya lapangan pekerjaan
2. Banyaknya jumlah angkatan kerja setiap tahun
3. Kurangnya kualitas sumber daya manusia
4. Pertumbuhan penduduk yang melunjak
5. Keterbatasan informasi yang diterima angkatan kerja

Dampak dari pengangguran
Pengangguran yang dianggap sebagai masalah sosial memiliki beberapa dampak negatif, jika dari segi ekonomi pengangguran dapat menyebabkan penurunan pembangunan. Jadi ada banyak pengangguran yang mencari agen sbobet yang berharap bisa memenangkan banyak uang dengan cara berjudi online. Hal ini mungkin bisa saja membuat kaya, tetapi kebanyakan pengangguran bermain judi dengan cara gegabah dan kebanyakannya akan kalah taruhan.
Karena penghasilan yang mengalami penunrunan akan semakin menurunkan pajak yang harus dibayarkan dan menurunkan pajak yang dibayarkan oleh masyarakat ke pada pemerintah.

Pengangguran juga mampu membuat produktivitas dan pendapatan masyarakat menjadi menurut sehingga dapat mengakibatkan penurunan pada pendapatan perkapita dan juga dapat menyebab kemiskinan.

Dampak negatif dari pengangguran disektor psikologis individu juga mampu menyebabkan seseorang yang menjadi pengangguran merasa malu, stress hingga tidak percaya diri dan juga lainnya. pengangguran juga mampu meningkatkan tingkat kriminalitas dan kesenjangan sosial meski tidak terlihat terlalu jelas.
Sehingga pengangguran masih menjadi masalah utama dalam setiap masalah.

Solusi mengatasi pengangguran
Pengangguran memang bukanlah masalah yang mudah untuk diselesaikan akan tetapi, setiap permasalahan pasti memiliki solusi dan dapat diselesaikan, meski dengan jangka waktu yang tidak singkat. Dibutuhkan usaha dan kerja keras baik dari pemerintah mau pun masyarakat untuk menumpas masalah pengangguran.

Berikut ini solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi angka pengangguran:
1. Menurunkan biaya pendidikan
Salah satu faktor dari tingginya angka pengangguran, karena biaya pendidikan yang tidak sedikit. Sehingga banyak orang yang tidak mampu untuk menyelesaikan pendidikan sehingga membuat mereka tidak dapat bersaing dalam mencari pekerjaan.
2. Merubah Mind-set
Sekarang ini banyak orang yang hanya fokus mencari pekerjaan, padahal lapangan pekerjaan semakin hari semakin sedikit sehingga peluang untuk mendapatkan pekerjaan sangatlah kecil. Mulailah mengubah pola pikir untuk membuka lapangan pekerjaan baru, dari pada mencari pekerjaan.
3. Membangun tempat-tempat latihan keterampilan
Pemerintah dapat berperan dalam menurunkan angka pengangguran dengan cara membangun tempat-tempat latihan keterampilan, agar para pengangguran ini memiliki keterampilan sehingga mereka bisa mandiri dan tidak hanya mencari pekerjaan, tapi mampu membuka peluang usaha sendiri.

Faktor-Faktor Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial merupakan seuatu yang terjadi pada suatu Negara. Di mana perbedaan antara orang miskin dan orang kaya memiliki selisih yang begitu jauh. Jika di suatu Negara tersebut ada masyarakat yang memiliki kekayaan luar biasa melimpah hingga mereka dapat hidup dengan sangat mewah dan berfoya-foya. Sementara di sisi lain ada masyarakat yang mengalami kesusahan hingga untuk makan saja tidak memiliki uang dan mereka juga harus tinggal di rumah yang sangat memprihatinkan. Ini lah yang disebuh dengan kesenjangan sosial. Lalu apa saja, faktor-faktor dari kesenjangan sosial?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesenjangan sosial yang hingga saat ini belum mampu diatasi oleh pemerintah, sehingga masih dianggap mimpi bagi Negara tersebut.

Berikut Ini Merupakan Faktor Penyebab Kesenjangan Sosial

1. Perbedaan sumber Daya Alam

Salah satu faktor utama kesenjangan sosial adalah, karena perbedaan sumber daya alam yang dapat menjadi faktor paling berpengaruh terhadap perekonomian suatu daerah.

2. Kebijakan Pemerintah

Selain sumber daya alam, kebijakan pemerintah juga mampu menyebabkan kesenjangan sosial. Contohnya saja, kebijakan mengenai program transmigrasi. Ketika warga pendatang lebih cepat maju dibanding dengan warga asli daerah tersebut, maka dapat menyebabkan ketimpangan sosial di daerah tersebut.

3. Pengaruh Globalisasi

Salah satu faktor ketimpangan sosial adalah pengaruh globalisasi. Kemajuan dan peningkatan globalisasi akan mampu membuat kemajuan bagi daerah yang dapat memanfaatkannya. Sebaliknya, jika daerah tersebut tidak mampu memanfaatkannya maka daerah tersebut akan mengalami keterpurukan karena gagal memanfaatkan kemajuan globalisasi.

4. Faktor Demografis

Perbedaan demografis ini memiliki kaitan yang erat terhadap penduduk daerah tersebut. Mulai dari jumlah penduduk di daerah tersebut, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan sehingga membuat perbedaan padsa kondisi sumber daya manusia di daerah tersebut. Sehingga perbedaan demograftis [ada suatu daerah menjadi penyebab adanya ketimpangan sosial. Hal ini diakibatkan produktivitas kerja masyarakat pada daerah tersebut. Semakin tinggi produktifitas masyarakat pada daerah tersebut, maka semakin mudah untuk memajukan daerah tempatnya tinggal.

5. Letak dan Kondisi Geografis

Letak dan kondisi geografis yang ada pada daerah tersebut menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial yang umumnya terjadi. Biasanya masyarakat yang tinggal di daerah yang lebih rendah mampu memajukan daerahnya dan membuat beragam infrastruktur yang lebih mudah. Bandingkan dengan mereka yang tinggal di dataran tinggi, mereka memerlukan waktu dan biaya yang jauh lebih banyak untuk membangun infrastruktur di tempat tinggal mereka. Sehingga mereka menjadi terisolasi di daerahnya dan jauh dari pusat kota. Hal ini dapat menyebabkan ketimpangan sosial. Sehingga mereka yang hidup di daratan rendah dan datar akan lebih mudah maju dibandingkan mereka yang hidup di pegunungan dan tempat yang sulit untuk dijangkau.

Penyebab Kenakalan Remaja di Lingkungan Sosial

Usia remaja merupakan usia yang cukup rentan karena dianggap masih mudah dipengaruhi oleh beberapa hal di sekeliling mereka. Oleh sebab itu, remaja di katakana adalah masa masa untuk menemukan jati diri seseorang. Namun pernahkah anda melihat kenakalan yang dilakukan oleh remaja? Mulai dari kenakalan wajar hingga kenakalan yang cukup berat dilakukan oleh seorang remaja yang mengakibatkan kerugian untuk orang lain dan juga lingkungannya. Apakah kenakalan remaja tersebut dapat dianggap normal? Dan apa saja penyebab kenakalan remaja terutama dari lingkungan sosialnya?

Ada beberapa pendapat yang mengungkapkan bahwa, kenakalan remaja biasanya dianggap sebagai sesuatu yang wajar, asalkan masih terbilang memiliki batas atau mampu dikendalikan. Tapi bagaimana jika kenakalan remaja tersebut tidak dapat dikembalikan sehingga membuat keluarga mau pun lingkungannya mengalami kerugian?
Lalu apa yang sebenarnya melandasi perbuatan remaja tersebut sehingga menjadi lupa diri? 

Berikut ini adalah penyebab kenakalan remaja di lingkungan sosialnya:
1. Keluarga tidak pernah mensosialisasikan ke pada anak mengenai nilai-nilai moran dan sosial
2. Orang tua sebagai role model tidak pernah menampilkan perilaku dan nila-nila sosial di rumah ke pada anak
3. Kurangnya perhatian yang diberikan orang tua terhadap anaknya. Orang tua kurand peduli dengan perkembangan anak mulai dari aktifitasnya, dengan siapa anak mereka berteman di sekolah mau pun di luar sekolah dan apa saja yang akan lakukan di luar rumah.
4. Orang tua tidak menerapkan kedisiplinan terhadap anak sehingga anak terlalu leluasa melakukan apa pun yang dia mau.
5. Anak dan orang tua memiliki kualitas hubungan yang kurang baik atau sangat rendah. Di mana orang tua tidak pernah berbicara empat mata dengan anak mereka
6. Orang tua memperlihatkan perilaku yang agresif dan juga konflik yang selalu terjadi di keluarga mereka dan anak harus menyaksikannya dalam pertumbuhan mereka.
7. Tinggnya kemiskinan juga menjadi faktor penyebab kenakalan remaja
8. Tidak adanya pengawasan orang tua terhadap anak mereka dikarenakan orang tua tinggal jauh dari anaknya. Padahal peranan orang tua tetaplah yang terpenting untuk mengembangkan karakter anak.
9. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
10. Meski keluarga menjadi faktor utama kenakalan remaja, tapi lingkungan baru juga bisa membuat seorang anak tumbuh dengan perilaku yang tidak wajar serta menimbulkan kerugian baik bagi diri mereka sendiri, keluarga dan bahkan lingkungan.

Kenakalan remaja bukannya tidak dapat dihentikan ketika meski sudah terlanjur tapi ada baiknya sebelum melakukan langkah untuk mengatasi kenakalan remaja, ada baiknya anda mengetahui terlebih dahulu penyebab kenakalan remaja di lingkungan sosialnya. Baik dari keluarga mau pun dari sekitar mereka.

Jumlah Kemiskinan Di Jawa Timur Menurun

Menurut survei yang dilakukan oleh Sosial Ekonomi Nasional (Suenas) periode bulan Maret hingga September pada tahun 2017, garis kemiskinan yang ada di Jawa Timur naik hingga 5,32%. Yaitu, dari Rp342.092 per kapita perbulan pada bulan Maret 2017 menjadi Rp360.302 per kapita perbulan pada September 2017 lalu. Hal ini tentu saja memberikan dampak bagi masyarakat Jawa Timur. Pasalnya naiknya garis kemiskinan yang terjadi pada periode tersebut membuat tingkat kemiskinan di Provinsi ini menurun. Sehingga bisa dikatakan bahwa jumlah kemiskinan di Jawa Timur mengalami penurunan hingga kini jumlah kemiskinan di Jawa Timur hanya sekitar 4.405.270 Jiwa.

Hal ini telah diungkapkan secara resmi oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Teguh Pramono. Beliau mengatakan bahwa secara umum tingkat kemiskinan di Jawa Timur menurun. Hal ini berlangsung pada periode Maret hingga September 2017 silam.

Pada September 2017, jumlah penduduk miskin yang berada di Provinsi Jawa Timur mencapai angka hingga 4.405.270 jiwa atau sekitar 11,20% dari total populasi Jawa Timur yang mencapai 38 juta jiwa. Angka tersebut berkurang hingga 211.740 atau sekitar 0,57% jika dibanding pada bulan Maret tahun 2017 lalu di mana jumlah kemiskinan di Provinsi Jawa Timur mencapai angka hingga 4.617.010 jiwa atau 11.77%.

“Pada bulan September 2017, kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 73,96%,” ungkap Teguh Pramono.

Garis kemiskinan di Provinsi Jawa Timur yang paling tinggi terjadi di daerah perkotaan dari pada daerah pedesaan. Garis kemiskinan yang terjadi di daerah perkotaan naik hingga angka 8,25% sementara angka garis kemiskinan di pedesaan naik hanya 2,49%. Tingginya kenaikan garis kemiskinan terjadi meliputi beberapa hal, misalnya makanan (10,80% untuk perkotaan, Sentara untuk pedesaan hanya mencapai 2,13%) kemudian garis kemiskinan bukan makanan (1,89% untuk di daerah perkotaan dan 3,59% untuk daerah pedesaan).

“Pada bulan September 2017 lalu, kontribusi komoditi makanan terhadap garis Kemiskinan baik di perkotaan mau pun di perdesaan pada umumnya angkanya sama. Misalnya beras 19,05% di perkotaan dan 23,38% di pedesaan,” ungkap Teguh Pramono.

Beliau juga menjelaskan, bahwa garis kemiskinan dapat diguanakn untuk mengelompokkan penduduk menjadi penduduk yang miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita di bawah angka garis kemiskinan.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Jawa Timur, Soekarwo menargetkan hingga bulan September 2018 mendatang, anka kemiskinan di Provinsi Jawa Timur bisa ditekan hingga mencapai 9,44%. “Kami optimis target ini bisa tercapai. Sebab berdasarkan pengalaman yang dilakukan selama memimpin Provinsi Jawa Timur, provinsi ini telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan dari 18,51% pada bulan Maret 2009 dan turun jadi 11,20% pada September 2017,” ujarnya Gubernur Provinsi Jawa Timur tersebut.
Beliau juga mengungkapkan bahwa telah melakukan berbagai langkah dalam upaya untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Timur. Langkah tersebut di antaranya adalah program Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera atau yang disebut dengan Jalin Matra dan juga Pengurangan Feminisasi Kemiskinan.

Selain itu, Soekarwo juga menandaskan, bahwa ada hal lain yang harus dilakukan pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap kelompok-kelompok yang prosentase beban kemiskinannya pada beras. “Sasaran pokoknya lebih pada fungsi siapnya beras di rumah tangga. Ini juga dilakukan agar jangan sampai beras di pedesaan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan perkotaan,”